Ketika jam pelajaran matematika masih berlangsung, tiba-tiba Bapak Kepala Sekolah masuk ke ruang kelasku. Raut wajahnya tampak sedih dan marah silih berganti. Aku bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan?
Dengan suaranya yang berwibawa, Beliau menyampaikan bahwa ada dua orang siswa putri yang telah melakukan perbuatan memalukan. Keduanya kini sedang menjalani pemeriksaan oleh Guru Pembimbing sekolah. Beliau menyampaikan secara hati-hati, bahwa kami siswa putri harus pandai-pandai menjaga diri. Setelah panjang lebar menyampaikan nasehatnya, Beliau keluar ruangan dan Ibu guru Matematika melanjutkan materi pelajarannya.
Ketika jam istirahat tiba aku dan temanku jajan ke kantin sekolah. Kami mendengar gosip yang beredar.
Ternyata, kedua teman kami yang dimaksud oleh Bapak Kepala Sekolah tadi akan dikeluarkan dari sekolah. Mereka mengkonsumsi narkoba dan berbuat asusila dengan pacarnya. Heh!!
Perbuatan tercela itu telah mengakibatkan salah seorang diantaranya hamil. Kami sangat terkejut dan tercengang mendengarnya. Usia kami di kelas III SMU ini rata-rata 17 sampai 18 tahun. Masih terlalu muda dan belum dewasa. Rupanya kedua teman kami itu selama ini sudah berkali-kali kena teguran dari pihak sekolah. Orang tuanya pun sudah pernah dipanggil oleh Guru-guru sekolah. Tetapi kali ini nasi sudah menjadi bubur.
Tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah. Kepala Sekolah pun tidak dapat lagi memberi peluang kepada mereka untuk terus melanjutkan sekolah dalam keadaan demikian. Sungguh malang nasib mereka.
Aku dan teman-teman yang lain sedih dan kuatir mendengar kejadian itu. Sebentar lagi Ujian Nasional tiba. Saat kami harus berjuang untuk lulus dan merenda masa depan yang gemilang, kedua teman kami itu harus meringkuk di rumah dan menjalani rehabilitasi. Sungguh berbahaya bila tidak berhati-hati dalam bergaul. Salah sedikit bisa masuk ke dalam jurang kesedihan dan kehinaan.
Bayangkan saja kalau dalam usia semuda itu sudah harus menimang bayi dan mengurusinya tanpa seorang suami. Karena laki-laki yang memacarinya tidak mau bertanggungjawab dan menghilang entah kemana. Benar kata pepatah; sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak!
Hanya sesaat mereguk manisnya pacaran dan sesudah itu harus merana menanggung malu. Memikirkan hal itu aku jadi takut pacaran. Lagipula di dalam agama Islam tidak dibenarkan adanya pacaran. Ayah dan ibu selalu menasehatiku untuk menjauhi teman laki-laki yang menggoda. Kalau jodoh tak akan lari kemana.
Aku yakin, bahwa muslimah yang sholehah akan memperoleh jodoh yang sholeh pula.Allah akan selalu memberi yang terbaik bagi hamba-Nya. Sekarang aku hanya ingin fokus belajar dan belajar. Sampai nanti tiba waktunya Allah Swt akan memberikan padaku seorang laki-laki yang mulia. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar